Dihakimi sebagai ahli maksiat
Dihakimi sebagai ahli maksiat
Malam itu, Istanbul basah oleh hujan yang jatuh seperti doa-doa yang tercecer. Sultan Murad IV berjalan dengan pakaian rakyat biasa, hanya satu pengawal setia mengikuti dari kejauhan.
Udara dingin, tapi hati seorang pemimpin jauh lebih dingin ketika ia mendengar bisikan keluhan rakyatnya.
Di tengah lorong yang sempit dan gelap... Sultan melihat seorang lelaki tergeletak di tanah berbatu.
Tidak ada cahaya. Tidak ada manusia yang menoleh. Hanya rintik hujan yang jatuh di wajah lelaki itu, seolah dunia pun enggan menyentuhnya.
Sultan Murad segera berlari, lututnya menghantam tanah yang basah. la menggenggam tubuh lelaki itu, mengguncangnya perlahan.
"Saudaraku... bangun. Pulanglah... malam terlalu dingin untukmu tidur di sini."
Tidak ada respons. Hanya kesunyian yang menjawab.
Sultan memeriksa nadinya, dan saat itulah ia sadar... lelaki itu telah kembali kepada Tuhannya. Sendirian, tanpa tangan yang meraih, tanpa suara yang memanggil namanya.
Ketika ia meminta bantuan orang-orang sekitar, semua wajah menjauh. Satu di antara mereka berkata tanpa ragu: "Dia pemabuk, Tuanku. Dan pezina. Biarkan saja."
Kata "biarkan saja" itu menampar keras. Seakan hidup lelaki itu tidak pantas ditutup dengan kasih sayang.
Sultan Murad menarik napas panjang, lalu dengan suara yang pecah ia berkata:
"Apakah dia bukan umat Nabi Muhammad?
Apakah kita membiarkan seorang muslim meninggal tanpa satu pun dari kita peduli?"
Lorong itu terdiam. Tak ada kata lain yang mampu melawan kalimat itu.
Jenazah itu akhirnya diantar ke sebuah rumah kecil yang remang. Seorang perempuan, istrinya jatuh berlutut, memeluk tubuh suaminya dan menangis seperti seseorang yang kehilangan separuh jiwanya.
Sultan hanya bisa menunduk... sampai wanita itu mengucapkan kalimat yang membuat dunia seakan berhenti berputar:
"Semoga Allah merahmatimu... wahai wali Allah."
Sultan mendongak. Matanya membesar. Hujan seperti lenyap dari suara dunia.
Wali? Lelaki ini? Yang dicaci? Yang dihina?
Dengan suara yang gemetar, Sultan bertanya:
"Bagaimana engkau bisa berkata demikian... sementara semua orang mengatakan ia ahli maksiat?" Wanita itu mengusap wajah suaminya, seperti merapikan seseorang yang baru tidur. Suara lirihnya pecah menjadi kepingan- kepingan luka:
"Setiap malam... ia membeli minuman keras sebanyak yang mampu ia beli. la pulang membawa botol-botol itu... bukan untuk diminum... tapi untuk dibuang, satu per satu...sambil berbisik: 'Ya Allah, aku tidak kuat. melihat kaum muslimin tenggelam dalam dosa. Izinkan aku meringankan beban mereka."
Air mata Sultan jatuh. la mengatupkan bibir menahan sesak. Wanita itu meneruskan dan kata-katanya menghantam seperti petir yang membelah dada
"Dan ketika ia pergi ke tempat pelacuran... la tidak pernah berniat kotor. la membayar para wanita itu... semua yang ia mampu... Lalu ia berkata kepada mereka: "Malam ini kalian bebas. Jangan layani siapa pun. Menjauhlah dari dosa."
Kemudian ia pulang...tersenyum kecil... dan berkata padaku: "Alhamdulillah... setidaknya aku menutup pintu dosa untuk malam ini."
Wanita itu mulai menangis lebih keras, tangis yang bukan sekadar kehilangan, tapi luka yang tersimpan
bertahun-tahun.
"Aku pernah berkata
padanya... Jika kau mati, tak ada
muslim yang mau menyalatkanmu.' la tersenyum... seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dunia... dan berkata: Jangan khawatir... Ketika aku mati, Sultanku sendiri yang akan menyalatkan aku."
Sultan Murad tidak mampu lagi menahan air mata. la menatap dalam-dalam wanita itu dan berkata: "Demi Allah... akulah Sultan Murad. Dan aku yang akan mengurus seluruh jenazah suamimu sampai ia
dimakamkan dengan kemuliaan."
Sumber: Buku Hikayat Cinta Baginda Nabi
Komentar
Posting Komentar