MASALAH LARANGAN MENJIHARKAN (MENGERASKAN SUARA).

MASALAH LARANGAN MENJIHARKAN
(MENGERASKAN SUARA)

Dalam kitab Fathul Mu'in 
Hasyiah ianatut Thalibin disebutkan :
Ada 4 Orang yang makruh mengeraskan Qiraah Atau Suaranya ,jika menganggu orang tidur Atau orang Shalat :
Baru di Anggap Makruh  mengeraskan suara/bacaan itu apabila menganggu ,Adapun jika tidak menganggu ,maka tidak makruh.
1.ORANG YANG SHALAT (مصل) Baik Imam atau Munfarid : Makruh mengeraskan suaranya jika menganggu orang tidur Atau  orang shalat lainnya.
Keterangan :
Dalam hal ini ada pengecualian ,

FAEDAH :
A'li Syibran malisi 
Makruh menjiharkan Qiraah (Alfatihah dan Surat) itu tidak berlaku pada  Shalat-shalat  Fardhu(Maghrib,Insya, Subuh) ,Karena pada Shalat fardhu itu dituntut untuk menjiharkannya seperti  : shalat Insya,
Maka jangan meninggalkan jihar pada Shalat insya ,karena Ada  hal yang telah di sebutkan di atas ,karena jihar di dalam shalat Insya itu dituntut pada Zatnya... Maka tidak meninggalkan ini jihar karena adanya perkara yg baru (seperti menganggu orang tidur dan lainnya)

2.QARI ,orang yang Membaca AlQuran/kitab (قارئ): Makruh mengeraskan suaranya jika menganggu orang tidur Atau orang shalat 

3.Orang yang memberi Nasehat/penceramah (واعظ ) : Makruh mengeraskan suaranya jika menganggu orang tidur Atau orang shalat

4.Orang yang mengajar/Guru  (مدرس) :  Makruh mengeraskan suaranya jika menganggu orang tidur Atau orang Shalat.
•Dalam 4 poin di atas ada pembahasan sebahgian u'lama menyatakan : Mutlak larangan menjiharkan (baik menganggu atau tidak) •Apabila seseorang menjiharkan Suaranya di hadapan orang Shalat di dalam mesjid , bukan orang yang Shalat di selain mesjid ,karena mesjid Pada Asalnya Diwakafkan untuk orang Shalat !!!

Referensi :
Kitab Fathul Mu'in
Hasyiah ianatut Thalibin jilid 1 halaman 153
Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bentuk keadaan maqam para sahabat Nabi (sekarang) jangan di samakan dengan bentuk maqam Abah guru sekumpul.

CARA MENULIS DI KAIN KAFAN MAYIT

Dihakimi sebagai ahli maksiat