HUKUM BERWUDHU DALAM KEADAAN TELANJANG.

Pertanyaan: 

Apa hukum berwudlu sambil telanjang?

Jawaban:

Wudlu sambil telanjang bulat hukumnya haram, namun wudlunya sah, letak keharamannya adalah pada auarat sauatani (dua jalan: qubul dan dubur) yang terbuka tanpa adanya hajat. 

Perkara yang wajib ditutupi saat wudlu adalah jalan depan dan jalan belakang. Sedangkan menutupi aurat selain dua itu, hukumnya sunnah.

1. Jika Laki-laki:
 
Wajib menutup kemaluan depan belakangnya (qubul dan dubur) + sunnah juga ditutup selain kemaluan depan belakangnya pas wudhu.

2. Jika wanita: 
Wajib nutupi kemaluan dia depan belakang + antara pusar dan lutut.
Jadi kalau wanita wajib tutup antara pusar dan lutut, tidak cukup pake celana dalam saja. Kalau iya maka harom alias dosa, meski wudhu nya sah.

Ini Sebagaimana kata Habib hasan bin Ahmad Al-kaaf (Dikitab at taqriiroot as sadiidah, halaman: 121).

Namun ada juga yang berpendapat makruh seperti Imam Romli dalam kitab nihayatul Muhtaj.

Referensi:

(Taqrirot assadidah, Hal. 121)

ويلزمه أن يستر عنده سوأتيه ويندب بقية عورته لأن العورة في الخلوة هي السوأتان فيجب سترهما عند الوضوء قبل الغسل اذ لا حاجة له في كشفهما

"Dan wajib bagi mutawadlic (orang yang berwudlu') menutupi dua jalan, dan disunnahkan menutupi aurat yang lainnya. Karena aurat saat kholwat (sendirian/persepen) adalah dua jalan, maka wajiblah menutupi keduanya tatkala berwudlu sebelum mandi, karena tiada hajat baginya untuk membuka kedua aurat."

I'anah Tholibin:

فرع: يجب هذا الستر خارج الصلاة أيضا ولو بثوب نجس أو حرير لم يجد غيره، حتى في الخلوة. لكن الواجب فيها ستر سوأتي الرجل وما بين سرة وركبة غيره، ويحوز كشفها في الخلوة - ولو من المسجد - لأدنى غرض كتبريد وصيانة ثوب من الدنس، والغبار عند كنس البيت، وكغسل. اهـ.

Far'un: wajib menutupi aurat di luar sholat meski dengan pakaian najis atau sutra apabila tidak ada pakaian lagi, meski pun saat sendirian, akan tetapi kewajiban ini adalah dua jalan dan antara pusar dan lutut dan yang lainnya. Boleh membuka aurat minimal karena tujuan seperti karena mendinginkan, menjaga pakaian dari terkena kotoran, menjaga dari terkena debu saat menyapu rumah dan seperti sedang mandi.

[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٩٧/١]

Alfiqhul Islam Wa adillatuh:

ويجب ستر العورة في الصلاة وغيرها ولو في الخلوة إلا لحاجة كاغتسال وتغويط واستنجاء.

Dan wajib menutup aurat di dalam sholat dan dalam selain sholat meski pun sendirian, kecuali adanya hajat seperti mandi dan berak dan istinja'.

[وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٧٣٨/١]

Nihayatul Muhtaj (pendapat yang menghukumi makruh)

فَإِنْ دَعَتْ حَاجَةٌ إلَى كَشْفِهَا لِاغْتِسَالٍ أَوْ نَحْوِهِ جَازَ بَلْ صَرَّحَ صَاحِبُ الذَّخَائِرِ بِجَوَازِ كَشْفِهَا فِي الْخَلْوَةِ لِأَدْنَى غَرَضٍ وَلَا يُشْتَرَطُ حُصُولُ الْحَاجَةِ، وَعُدَّ مِنْ الْأَغْرَاضِ كَشْفُهَا لِتَبْرِيدٍ، وَصِيَانَةِ الثَّوْبِ عَنْ الْأَدْنَاسِ وَالْغُبَارِ عِنْدَ كَنْسِ الْبَيْتِ وَنَحْوِهِ. نَعَمْ لَا يَجِبُ سَتْرُهَا عَنْ نَفْسِهِ فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ، وَإِنَّمَا يُكْرَهُ نَظَرُهُ إلَيْهَا مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ

Apabila ada hajat untuk membuka aurat seperti mandi atau selainnya, maka boleh membuka aurat, bahkan pengarang kitab "Ad-dakho'ir" menjelaskan akan kebolehan membuka aurat saat sendirian karena paling minimnya sebuah alasan dan tidak disyaratkan hasilnya hajat, dan yang dikategorikan alasan adalah seperti karena untuk mendinginkan badan (hareudang), menjaga agar pakaian tidak kotor, atau terkena debu saat menyapu rumah dan semacamnya. Iya tidak wajib menutupi aurat dari diri sendiri di luar sholat, akan tetapi makruh jika melihat aurat tanpa hajat.

[الرملي، شمس الدين، نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج، ٦/٢]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bentuk keadaan maqam para sahabat Nabi (sekarang) jangan di samakan dengan bentuk maqam Abah guru sekumpul.

CARA MENULIS DI KAIN KAFAN MAYIT

Dihakimi sebagai ahli maksiat