APA ITU TAWASUL
APA ITU TAWASUL.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tawasul adalah mengerjakan suatu amal untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Tawasul adalah memohon atau berdoa kepada Allah SWT dengan perantara nama seseorang yang dianggap suci dan dekat kepada Tuhan,” dijelaskan lebih lengkap dalam KBBI.
Upaya bertawasul adalah bagi umat Islam dilakukan untuk memenuhi hajat yang diinginkannya. Doa dengan perantara kekasih Allah SWT dan orang pilihannya, yakni Rasulullah Muhammad SAW. Umat Islam yang memiliki budaya tawasul adalah mahzab Imam Syafi’i.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. Surat Al-Maidah ayat 35).
Jenis-Jenis Tawasul
1. Bertawasul dengan Allah SWT
Tawasul adalah dilakukan dengan nama-nama-Nya yang baik, dengan sifat-sifat-Nya.
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu…” (Q.S Al A’raf : 180).
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam doa beliau:
“… Aku memohon dengan setiap nama-Mu, yang Engkau memberi nama diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu…” (HR. Ahmad).
2. Bertawasul dengan Amal
Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S Al Baqarah : 127).
Hadis tawasul adalah bisa temukan dalam kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua. Mereka bertawasul dengan amal salih yang mereka lakukan berupa berbuat baik kepada kedua orangtua, meninggalkan perbuatan zina, dan menunaikan hak orang lain, maka Allah mengabulkan doa mereka sehingga mereka dapat keluar dari gua karena tawasul dalam doa yang mereka lakukan.
3. Bertawasul dengan Doa
Allah SWT berfirman yang mengisahkan anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam:
“Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." (Q.S Yusuf : 97).
Hadis lain tentang tawasul adalah dari perkataan Umar bin Khottob kepada Al ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia,
“Ya Allah, sesungguhnya kami bertawassul kepada-Mu lewat perantaraan Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan pada kami. Dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu lewat perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah pula hujan pada kami.” (HR. Bukhari).
Dalil Tentang Tawasul yang perlu diketahui:
1. Surat Al Maidah ayat 35.
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."
Dari ayat tersebut, ulama memutuskan bahwa tawasul adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Islam. Ayat ini dengan jelas meminta kita untuk membuat anak tangga yang menghubungkan seseorang dan Allah. Ulama dari berlbagai madzhab sepakat bahwa tawasul yang dimaksud adalah amal saleh sebagai jalan yang menyertai seseorang dalam doanya. Amal saleh dapat mendekatkan seseorang kepada-Nya. Amal saleh ini yang dijadikan tawasul agar hajat-hajat orang tersebut dalam doanya terkabul
2. Surat Al-A'raaf ayat 180.
Artinya: Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki menyebutkan dengan rinci hal-hal terkait tawasul yang perlu diketahui. Pandangan ini yang menjadi pijakan dan keyakinan paham Ahlussunah wal Jamaah sebagai berikut:
1. Tawasul adalah salah satu cara doa dan salah satu pintu tawajuh kepada Allah SWT. Tujuan hakiki tawasul adalah Allah SWT. Sementara sesuatu yang dijadikan tawasul adalah hanya bermakna jembatan dan wasilah untuk taqarrub kepada-Nya. Siapa saja yang meyakini di luar pengertian ini tentu jatuh dalam kemusyrikan.
2. Orang yang tawasul adalah takkan menyertakan wasilahnya dalam doa kecuali karena rasa cintanya kepada wasilah tersebut dan karena keyakinannya bahwa Allah juga mencintainya. Kalau yang muncul berlainan dengan pengertian ini, niscaya ia adalah orang yang paling jauh dan paling benci dengan wasilahnya.
3. Ketika meyakini bahwa orang yang dijadikan wasilah kepada Allah SWT dapat mendatangkan mashalat dan mafsadat dengan sendirinya setara atau lebih rendah sedikit dari Allah SWT, maka orang yang tawasul adalah jatuh dalam kemusyrikan.
4. Praktik tawasul adalah bukan sesuatu yang mengikat dan bersifat memaksa. Ijabah doa tidak bergantung pada tawasul, tetapi pada prinsipnya mutlak sekadar permohonan kepada Allah sebagai firman-Nya, 'Jika hamba-Ku bertanya tentang-Ku kepadamu (hai Muhammad), sungguh Aku sangat dekat,' atau ayat lainnya, 'Katakanlah hai Muhammad, 'Serulah Allah atau serulah Yang Maha Penyayang'. Panggilan mana saja yang kalian gunakan itu, sungguh Allah memiliki nama-nama yang Waallahua'lam.
Komentar
Posting Komentar