KAJIAN FIQIH - DO'A IFTITAH BOLEHKAH DITINGGALKAN ATAU DIBACA.

KAJIAN FIQIH - DO'A IFTITAH BOLEHKAH DITINGGALKAN ATAU DIBACA.

Doa iftitah adalah doa yang dibaca pada awal shalat, sebelum membaca Al-Fatihah. Menurut mayoritas ulama, doa iftitah tidak wajib dibaca, tetapi sunnah.

Dalam kitab "Al-Majmu'" yang merupakan kitab fikih mazhab Syafi'i, Imam Nawawi menyatakan bahwa doa iftitah adalah sunnah, bukan wajib. Artinya, jika seseorang tidak membaca doa iftitah, shalatnya tetap sah, tetapi dia akan kehilangan pahala sunnah.

Namun, jika seseorang ingin membaca doa iftitah, maka dia dapat membacanya dengan niat untuk mendapatkan pahala sunnah. Doa iftitah dapat dibaca dengan berbagai lafaz, tetapi yang paling umum adalah Sebagaimana terdapat dalam kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maram karya Imam Ash-Shan’ani, riwayat dari Ali Bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah setiap kali shalat selalu membaca doa ini:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمآوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Jadi, doa iftitah boleh dibaca atau ditinggalkan, tetapi membaca doa iftitah dapat memberikan pahala sunnah bagi yang melakukannya.
Waallahua'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bentuk keadaan maqam para sahabat Nabi (sekarang) jangan di samakan dengan bentuk maqam Abah guru sekumpul.

CARA MENULIS DI KAIN KAFAN MAYIT

Dihakimi sebagai ahli maksiat