RUNTUH SUDAH SLOGAN SEMUA BID'AH SESAT DI HADAPAN HR MUSLIM INI !
RUNTUH SUDAH SLOGAN SEMUA BID'AH SESAT DI HADAPAN HR MUSLIM INI !
“Kalau Semua Bid’ah Sesat, Kenapa Nabi Diam Saat Sahabat Membuat Bacaan Iftitah Sendiri?”
Kaum yang paling sering berteriak “bid’ah… bid’ah… sesat!” biasanya langsung gugup ketika berhadapan dengan hadits shahih ini. Sebab hadits ini menghancurkan pola pikir sempit yang menganggap semua lafadz baru dalam ibadah otomatis haram dan sesat.
Padahal di zaman Nabi ﷺ sendiri, ada sahabat yang membuat bacaan baru dalam shalat — dan Nabi bukan hanya tidak marah, bahkan memuji bacaan tersebut.
Perhatikan hadits shahih berikut:
> عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِي مَع رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ ِلله كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟
قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ
قَالَ: عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ
Dari Ibnu Umar رضي الله عنه, ia berkata:
“Ketika kami shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang laki-laki mengucapkan:
> اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ ِلله كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Rasulullah ﷺ lalu bertanya:
‘Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?’
Laki-laki itu menjawab:
‘Saya wahai Rasulullah.’
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
> عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
‘Aku kagum terhadap bacaan itu. Pintu-pintu langit dibukakan karenanya.’
Ibnu Umar berkata:
‘Aku tidak pernah meninggalkan bacaan itu sejak mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan demikian.’”
(HR. Muslim)
Hadits Ini Sangat Menyakitkan Bagi Kelompok “Semua Bid’ah Sesat”
Kenapa?
Karena fakta hadits ini jelas:
Sahabat membuat lafadz baru dalam shalat.
Bacaan itu sebelumnya tidak diajarkan Nabi.
Nabi tidak berkata: “Ini bid’ah sesat.”
Nabi malah memuji dan mengaguminya.
Kalau logika sebagian orang benar — bahwa semua tambahan lafadz dalam ibadah pasti sesat — seharusnya Nabi langsung melarang sahabat tersebut.
Tetapi yang terjadi justru kebalikannya.
Ini menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru dalam ibadah otomatis tercela. Selama isinya baik, tidak bertentangan dengan syariat, dan membawa kepada dzikir kepada Allah, maka bisa diterima.
Kenapa Saat Tahlil dan Shalawat Mereka Teriak Bid’ah?
Aneh sekali.
Saat ada dzikir bersama, tahlil, maulid, shalawat, doa berjamaah — langsung teriak:
> “Mana dalilnya?” “Tidak ada contoh Nabi!” “Bid’ah!”
Tetapi ketika disodorkan hadits shahih bahwa sahabat membuat sendiri bacaan dalam shalat lalu dipuji Nabi ﷺ, mereka mulai sibuk mencari-cari alasan.
Kadang jawabannya berubah jadi:
> “Itu karena Nabi masih hidup.”
Justru ini makin menghancurkan mereka sendiri. Sebab pengakuan itu berarti:
memang ada perkara baru dalam ibadah,
dan tidak semuanya langsung sesat.
Berarti slogan:
> “Semua yang tidak dicontohkan Nabi pasti sesat”
ternyata runtuh oleh hadits shahih Muslim sendiri.
Imam Nawawi Juga Menjelaskan Kebolehan Ini
Imam An-Nawawi ketika mensyarahi hadits ini menjelaskan bahwa hadits tersebut menunjukkan bolehnya membuat dzikir yang baik selama tidak menyelisihi syariat.
Artinya, para ulama Ahlussunnah sejak dulu sudah memahami:
bid’ah tidak semuanya sesat,
ada perkara baru yang hasanah,
dan ada yang dhalalah.
Bukan seperti pola pikir kaku yang menganggap semua hal baru langsung neraka.
Tiga Pertanyaan yang Membuat Mereka Sulit Tidur
1. Kalau semua tambahan dalam ibadah sesat, kenapa Nabi ﷺ tidak mengingkari sahabat yang membuat bacaan iftitah sendiri?
2. Kenapa Nabi ﷺ justru memuji bacaan itu dan mengatakan pintu langit dibuka karenanya?
3. Kalau sahabat boleh membuat lafadz dzikir baru yang baik, atas dasar apa kalian mengharamkan seluruh amalan kaum muslimin seperti tahlil, maulid, dan shalawat?
Hadits shahih ini terlalu terang untuk ditolak.
Masalahnya bukan kurang dalil.
Masalahnya: ada yang sudah terlanjur membangun agama di atas slogan, bukan di atas pemahaman ulama dan keluasan sunnah Nabi ﷺ.
Komentar
Posting Komentar