KISAH JURAYJ: ANTARA DOA IBU, FITNAH KEJI, DAN KEAJAIBAN BAYI YANG BERBICARA.
KISAH JURAYJ: ANTARA DOA IBU, FITNAH KEJI, DAN KEAJAIBAN BAYI YANG BERBICARA.
Kisah ini adalah salah satu yang paling dramatis dalam sejarah Bani Israil. Sebuah narasi agung yang mengajarkan kita tentang satu hal yang
sangat krusial dalam hidup: Kekuatan lisan seorang ibu dan bagaimana Allah membela hamba-Nya yang difitnah.
Ini adalah kisah tentang Jurayj, seorang ahli ibadah yang jujur, namun terjebak dalam pusaran ujian yang hampir menghancurkan kehormatannya.
Jurayj adalah pemuda Bani Israil yang memilih jalan zuhud. Ia membangun sebuah shuma’ah (tempat ibadah kecil yang terpencil) demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Seluruh waktunya ia habiskan dalam rukuk dan sujud.
Suatu ketika, ibunya datang memanggil saat Jurayj sedang melaksanakan shalat sunnah. "Wahai Jurayj!" panggil ibunya dengan penuh kerinduan.
Jurayj batinnya bergejolak hebat, ia bimbang dalam ketaatan: "Ya Allah, manakah yang lebih utama, memenuhi panggilan ibuku atau
melanjutkan shalatku?" Akhirnya ia memilih melanjutkan shalatnya.
Kejadian ini berulang hingga tiga hari berturut-turut. Sang ibu yang merasa diabaikan pun terluka hatinya. Dalam kepedihan itu, terlontarlah sebuah doa yang kelak mengguncang hidup Jurayj:
"Ya Allah, janganlah Engkau matikan Jurayj sebelum ia melihat wajah wanita-wanita pezina!"
Nama Jurayj harum karena kesalehannya,namun hal itu justru menyulut api iri hati di tengah
masyarakat. Seorang wanita pezina yang sangat cantik dan sombong sesumbar:
"Jika kalian mau, aku sanggup menjatuhkan Jurayj ke dalam lubang fitnah!"
Wanita itu mendatangi tempat ibadah Jurayj, ia memamerkan segala kecantikannya untuk menggoda, namun Jurayj adalah gunung yang kokoh; ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Gagal dengan rencananya, wanita itu justru berzina dengan seorang pengembala kambing yang sering berteduh di dekat sana hingga ia hamil.
Saat bayi itu lahir, kota itu meledak dalam amarah. Wanita itu menunjuk ke arah bukit suci Jurayj dan
memfitnah: "Anak ini adalah hasil perbuatanku dengan Jurayj sang ahli ibadah itu!"
Masyarakat yang tadinya menghormati Jurayj berubah menjadi beringas. Mereka menyerbu shuma’ah Jurayj, menghancurkannya dengan kapak dan linggis hingga rata dengan tanah.
Jurayj diseret dengan paksa, dipukuli, dan dicaci maki sebagai munafik di depan umum.
Jurayj yang bingung bertanya: "Apa yang terjadi pada kalian?" Mereka berteriak murka: "Engkau telah berzina dengan wanita ini hingga melahirkan anak!"
Melihat wanita pezina itu berdiri di depannya, Jurayj teringat akan doa ibunya yang dulu. Ia menyadari bahwa ini adalah buah dari pilihannya yang mengabaikan panggilan sang ibu. Namun, Jurayj tidak panik; ia berlindung kepada Allah.
"Biarkan aku shalat dua rakaat," pinta Jurayj dengan tenang. Setelah bersujud panjang, Jurayj mendatangi bayi yang masih merah itu. Dengan penuh keyakinan kepada Allah, ia menusuk perut bayi itu dengan jarinya dan bertanya:
"Wahai bayi, siapakah ayahmu yang sebenarnya?"
Tiba-tiba, sebuah keajaiban yang menggetarkan jiwa terjadi. Bayi yang belum mampu bicara itu berkata dengan fasih di hadapan ribuan pasang mata:
Ayahku adalah sang pengembala kambing!"
Seketika, kota itu hening dicekam rasa bersalah. Orang-orang menyadari kesalahan besar mereka. Mereka bersimpuh di kaki Jurayj, menciumi tangan dan kakinya seraya memohon maaf.
Mereka berkata: "Wahai Jurayj, sebagai penebus dosa kami, kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dari emas murni!" Jurayj tersenyum bijak dan menjawab:
"Tidak, bangunlah kembali seperti semula, cukup dari tanah liat saja."
DALIL DAN REFERENSI SHAHIH
Kisah agung ini merupakan wasiat lisan dari Rasulullah SAW yang terjaga keshahihannya dalam literatur Islam utama:
✅ SUMBER HADIST UTAMA:
Diriwayatkan secara lengkap dalam Shahih Bukhari
(No. 3436) dan Shahih Muslim (No. 2550). Hadist ini menjadi dalil utama bagi para ulama tentang pentingnya adab kepada orang tua (Birrul Walidain) bahkan di saat sedang melaksanakan ibadah sunnah.
✅ AL-QUR'ANUL KARIM (Tentang Pembelaan Allah): "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang suka berkhianat lagi mengingkari nikmat."
(QS. Al-Hajj: 38)
✅ AL-QUR'ANUL KARIM (Tentang Berbuat Baik kepada Orang Tua):"Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya..."
(QS. Al-Isra: 23)
✅ PELAJARAN FIKIH:
Imam Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa jika seorang anak sedang salat sunnah dan dipanggil oleh ibunya, maka hukum asalnya adalah membatalkan salat untuk menjawab panggilan tersebut, karena menjawab panggilan ibu adalah kewajiban, sedangkan salat sunnah adalah
keutamaan.
Jangan pernah meremehkan perasaan seorang ibu, karena doanya menembus langit tanpa penghalang. Dan jangan pernah takut saat difitnah oleh seluruh dunia,karena jika Allah bersamamu, Dia akan membela kehormatanmu melalui cara yang paling mustahil.
Komentar
Posting Komentar