Kisah "Langkah Kaki Bilal yang Terdengar di Surga"
Kisah nyata ini menceritakan tentang Bilal bin Rabah RA, seorang mantan budak berkulit hitam asal Abisinia (Etiopia) yang status sosialnya sempat dihinakan oleh kaum Quraisy, namun derajat spiritualnya diangkat begitu tinggi oleh Allah SWT di alam gaib
Keteguhan Iman di Bawah Bara Api. Sebelum mencapai kedudukan spritual yang tinggi, Bilal adalah simbol keteguhan iman yang luar biasa. Saat memeluk Islam, ia disiksa oleh majikannya, Umayyah bin Khalaf, di tengah padang pasir Makkah yang membakar. Tubuhnya yang telanjang ditindih dengan batu hitam yang sangat besar dan panas.Di tengah siksaan yang nyaris mencabut nyawanya, dari bibir Bilal yang pecah-pecah tidak keluar keluhan, melainkan sebuah kalimat tauhid misterius yang menggetarkan hati: "Ahad... Ahad..." (Allah Yang Maha Esa). Keteguhan iman inilah yang mendasari setiap amal shaleh yang ia lakukan setelah dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Misteri Bunyi Terompah saat Isra Mi'raj Puncak keajaiban mistis terjadi ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan suci Isra Mi'raj menembus langit ketujuh hingga ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan gaib tersebut, Allah SWT memperlihatkan keindahan dalam ruangan-ruangan surga kepada Nabi Muhammad SAW.Saat sedang berjalan menikmati keindahan surga, Rasulullah SAW mendengar sebuah suara yang sangat akrab di telinganya. Suara itu adalah bunyi derap langkah kaki dan gesekan alas kaki (terompah/sandal) seseorang yang sedang berjalan di depannya.Sepulangnya dari perjalanan Isra Mi'raj ke bumi, Rasulullah SAW langsung mengumpulkan para sahabat. Beliau memanggil Bilal dan bertanya dengan penuh rasa penasaran: "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan paling utama yang kamu lakukan setelah memeluk Islam? Karena sesungguhnya aku mendengar bunyi langkah sandalmu di depanku di dalam surga semalam."
Rahasia Amalan Istikamah Bilal bin Rabah terkejut dan tertunduk malu mendengar pertanyaan manusia paling mulia tersebut. Ia merasa tidak memiliki amalan besar seperti jidat yang hitam atau harta yang melimpah untuk disedekahkan. Dengan suara bergetar, Bilal membuka rahasia kecilnya:"Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki amalan besar. Hanya saja, aku tidak pernah berwudu baik di waktu siang maupun malam, kecuali setelah selesai wudhu aku pasti langsung mendirikan shalat sunah (syukrul wudu) dua rakaat yang disanggupkan oleh Allah kepadaku. Dan setiap kali wudhuku batal, aku selalu bergegas memperbaruinya."Mendengar jawaban jujur tersebut, Rasulullah SAW tersenyum dan membenarkan bahwa istikamah dalam menjaga kesucian (wudhu) dan shalat sunah dua rakaat itulah yang telah mengantarkan ruh dan kedudukan Bilal mendahului langkah kaki manusia lainnya ke dalam surga.
Kisah mistis ini membuktikan sebuah hukum spritual dalam Islam: Allah tidak hanya melihat kuantitas atau besarnya sebuah amal, melainkan keikhlasan dan keistiqamahan meskipun amal tersebut tampak kecil di mata manusia.Bilal, pria yang dulunya tidak dianggap oleh peradaban manusia, alas kakinya justru sudah diberi izin oleh Allah SWT untuk menginjak tanah surga bahkan sebelum jasadnya wafat meninggalkan dunia. Hal ini menjadi motivasi besar bagi setiap muslim bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, memiliki peluang yang sama untuk meraih kedudukan tertinggi di sisi-Nya melalui jalan istikamah.
Komentar
Posting Komentar