SEBUAH KISAH YANG MEMBUAT ABU BAKAR & UMAR CEMBURU...

Pernahkah Anda mendengar tentang seorang pemuda yang ketika wafatnya, Rasulullahﷺ sendiri yang turun ke dalam liang lahatnya, sementara Abu Bakar dan Umar hanya bisa berdiri di atas sambil menangis iri?

Bukan iri karena benci, tapi iri karena kemuliaan yang ia dapatkan.
Ini adalah kisah tentang Abdullah Zul-Bijadain, Sang Pemilik Dua Kain Kasar.

Di masa awal Islam, ada seorang pemuda yatim kaya raya bernama Abdul Uzza. Ia hidup bergelimang harta di bawah asuhan pamannya yang sangat mencintainya. Namun, begitu cahaya Islam masuk ke hatinya,segalanya berubah.

Saat ia meminta izin untuk memeluk Islam, pamannya murka: "Jika kau mengikuti Muhammad, aku akan mengambil kembali semua harta yang kuberikan padamu, bahkan pakaian yang melekat di tubuhmu!"

Tanpa ragu, pemuda ini melepas semua kemewahannya. Ia menyerahkan hartanya, bahkan jubah mahalnya. Ia pulang ke ibunya hanya dengan tubuh tanpa kain, lalu memotong selembar kain kasar (Bijaad) menjadi dua: satu untuk sarung, satu untuk selendang.

Itulah mengapa ia dijuluki "Zul-Bijadain" 
(Si Pemilik Dua Kain Kasar).

Ia menempuh perjalanan jauh ke Madinah dengan pakaian compang-camping itu hanya demi menemui Rasulullah ﷺ. Saat bertemu, Rasulullah ﷺ tersenyum haru dan mengganti namanya menjadi Abdullah. Sejak itu,
ia tak pernah lepas dari shaf terdepan dan suara lantang dalam berdzikir.

Pada Perang Tabuk, Abdullah wafat karena demam. Malam itu, Abdullah bin Mas’ud RA terbangun dan melihat cahaya api di sudut perkemahan. Ia mendekat dan pemandangan itu membuatnya membeku...

Di dalam lubang kubur yang gelap, terlihat Rasulullah ﷺ sendiri yang turun ke dalam liang lahat. Beliau menjulurkan tangannya ke atas, sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab berdiri di atas memegang jenazah Abdullah.

Rasulullah ﷺ berkata dengan lembut namun menyayat hati: "Dekatkan saudaramu ini kepadaku..."
Setelah membaringkan Abdullah dengan tangannya sendiri, Rasulullah ﷺ menengadahkan wajah ke langit dan berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku telah ridha kepadanya pada malam ini, maka ridhailah dia..."

Menyaksikan itu, Abdullah bin Mas’ud menangis tersedu-sedu dan berbisik: "Duhai, andai saja akulah yang terbujur di dalam liang lahat itu..."

Seorang sahabat yang dulunya kaya raya, rela mati dalam kemiskinan harta demi kekayaan iman, hingga sang Baginda Nabi sendiri yang "melayani" pemakamannya.

Pesan Hikmah hari ini: Mungkin dunia tidak mengenal namamu, tapi pastikan penduduk langit mengenal sujudmu. Terkadang, kehilangan dunia adalah cara Allah menjemputmu untuk mendapatkan kemuliaan yang tak terbayangkan.

Jika kisah ini menyentuh hatimu, silakan SHARE sebagai amal jariyah agar lebih banyak jiwa yang terinspirasi oleh cinta tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. 🤍

Ketik "Aamiin" jika Anda ingin dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang shaleh di Jannah kelak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benarkah Arwah Orang-orang Mukmin Pulang Ke Rumahnya Setiap Malam ..?

CARA KIRIM PAHALA BACAAN AL-QURAN UNTUK SI MAYIT

INI PATUT DIKETAHUI UNTUK PARA PETUGAS QURBAN AGAR TIDAK TERJADI KEHARAMAN.