DIA MENCINTAI RASULULLAH TAPI RASULULLAH MENOLAK MELIHAT WAJAHNYA
Siapa dia sampai Rasulullah tidak mau melihat wajahnya ? Dia adalah Wahsyi bin Harb. Hubungannya dengan Rasulullah tercatat dalam tinta sejarah yang kelam.
Wahsyi bin Harb adalah lelaki yang menghunus tombak ke arah Hamzah bin Abdul Muttalib, paman yang sangat dicintai oleh Rasulullah ﷺ dan kematian Hamzah ditangisi oleh Nabi Muhammad.
Sebelum Islam, Wahsyi dulunya hanyalah seorang budak yang dibayar oleh Jubaidah bin Muth’im, Hindun binti Utbah untuk membunuh paman nabi yaitu Hamzah. Hindun menjanjikan kebebasan sebagai budak pada Wahsyi asal dia bisa membunuh Hamzah
Saat kematian Hamzah, Rasulullah sangat terpukul atas kematian pamannya. Sampai-sampai beliau membuat statement untuk membalas kematian paman beliau.
Bertahun-tahun setelah perang itu, Wahsyi hidup dalam bayang-bayang dosa serta rasa bersalah. Ketika Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Kota Mekah, ia pun datang menemui Rasulullah dan berikrar untuk masuk agama Islam dengan sangat tulus.
Dahulunya nama Wahsyi masuk dalam daftar orang yang paling dicari oleh seluruh ummat muslim, namun tekad keberanian dan ketulusan membuat ia memilih untuk memberanikan diri datang bertemu Rasulullah dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Kala itu semua mata tertuju pada kehadiran Wahsyi bin Harb yang datang menemui Nabi Muhammad.
Rasulullah ﷺ menatap matanya dengan mata yang berkaca-kaca masih menyimpan ada rasa marah dan sedih. Bahkan sejak dahulu, Rasulullah telah bertekad untuk menghukum Wahsyi bin Harb. Akan tetapi ketika bertemu, Wahsyi justru mengucap kalimat syahadat di depan Rasulullah sehingga hukuman padanya sebagai buron otomatis berakhir.
"Apakah engkau Wahsyi?" tanya Rasulullah saat melihatnya. Berdiri dengan memegang telapak tangan di atas dada.
"Ya, wahai Rasulullah."
"Engkaukah yang membunuh Hamzah?"
Wahsyi menundukkan kepala. Ia tahu bagaimana sakit hatinya Rasulullah kala itu saat mengetahui kematian pamannya dengan sangat tragis.
Wahsyi bin Harb menjawab dengan suara yang halus dan bergetar. "Ya, Rasulullah."
Rasulullah ﷺ seketika terdiam. Sorot mata beliau mengabarkan betapa luka itu padahal belum sembuh. Betapa sakit rasanya kehilangan Hamzah. Luka itu juga belum surut sampai sekarang. Lalu, dengan suara yang lembut tapi nada sangat tajam dan menyayat hati Washi, Rasulullah kemudian berucap:
"Aku telah memaafkanmu, tapi jangan pernah lagi kau tunjukkan wajahmu di depanku lagi. Sebab setiap kali aku melihatmu, aku selalu teringat akan kematian pamanku Hamzah."
Mendengar kata-kata itu sangat menghujam jantung Wahsyi lebih dalam daripada ujung mata tombaknya sendiri. Dadanya sakit, seketika sesak. Dia telah dimaafkan oleh Rasulullah, tapi Rasulullah tidak ingin lagi melihat wajahnya. Air mata Washi hampir saja pecah, tapi ia hanya bisa menunduk merasa menyesal dan menahan malu.
Usai pertemuan pertama dan terakhir itu, Wahsyipun memilih pergi meninggalkan Kota Madinah. Meskipun ia pergi jauh, akan tetapi Washi selalu mencari tahu kabar tentang nabi Muhammad dari orang-orang yang datang dari Madinah. Kala itu, meskipun ia tidak diinginkan oleh Rasulullah namun Wahsyi bin Harb tetap belajar agama. Ia mencintai agama ini bukan semata karena Rasulullah saja melainkan karena perintah dari Allah. Washi selalu mendengarkan cerita dari para sahabat Nabi Muhammad yang sering pulang pergi dari Madinah ke kotanya.
Semakin lama kecintaan Wahsyi bin Harb kepada Rasulullah semakin besar. Setiap berita tentang Rasulullah ﷺ ia dengar dengan hati bergetar dan penuh rasa haru dan cinta. Kadang saking rindunya beliau pada Rasullullah, Washi diam-diam mendatangi Kota Madinah sambil menutup wajahnya dengan kain. Tujuannya hanya satu supaya beliau bisa mendengar suara Rasulullah dari dekat.
Bertahun-tahun setelahnya, terdengar kabar jika Rasullullah telah wafat. Wahsyi bin Harb menjadi salah satu orang yang tangisnya paling keras kala itu. Kabar kematian Rasulullah seakan membuat dunianya ikut hancur dan runtuh. Dan tak lama kemudian Washi pun kembali lagi pulang ke Kota Madinah. Washi mendatangi Khalifah Abu bakar dan menyerahkan jiwa raganya sebagai tentara muslimin menjadi sosok tentara pembela Islam di garis paling depan.
Sejak itu, Wahsyi menghabiskan sisa hidupnya untuk ibadah dan bertempur di medan perang, berjuang sampai titik darah penghabisan membela agama sebagai penebusan dosanya.
Nama Wahsyi bin Harb terkenal sebagai pasukan tangguh. Ketika perang Yamamah pecah, Washi berani bertempur melawan Musailamah Al-Kadzab, seorang lelaki yang mengaku sebagai nabi baru. Ia membunuh nabi palsu itu dengan tombak yang sama yang pernah ia gunakan saat membunuh Hamzah dahulu.
Konon ceritanya hingga akhir hayatnya, Wahsyi tetap membawa beban itu dalam hatinya. Ia tahu bahwa Allah telah mengampuni dosanya, tetapi luka dalam hatinya tetap menganga. Ia adalah lelaki yang telah diampuni, tetapi tidak bisa meredam cintanya pada Rasulullah ﷺ.
Waallahua'lam.
Komentar
Posting Komentar