KISAH DETIK-DETIK TUBUH NABI MUHAMMAD HENDAK DICAMBUK SAHABATNYA SENDIRI
Dikisahkan, Dahulu Suasana Masjid Nabawi mendadak hening di pagi hari. Dimana saat itu Rasulullah berdiri di depan mimbar dengan tubuh yang amat lemah menahan sakit berat menjelang wafatnya.
Wajah suci beliau tampak pucat namun tetap menatap satu per satu wajah para sahabat dengan mata berkaca-kaca. Dengan suara bergetar yang menyayat hati, beliau bersabda,
"Wahai sahabat-sahabatku, ajalku sudah dekat. Jika ada di antara kalian yang pernah aku zalimi, wajahnya pernah kupukul, atau hartanya pernah kuambil, berdirilah hari ini! Tuntutlah aku, ambillah qisas dariku sekarang. Jangan biarkan aku menghadap Allah dengan membawa dosa kepada manusia."
Mendengar perkataan itu, semua sahabat menunduk dan air mata mereka mulai menetes deras karena tidak sanggup membayangkan manusia paling mulia meminta untuk dihukum.
Namun, di tengah isak tangis yang memenuhi masjid, tiba-tiba seorang pria tua bernama Ukasyah bin Mihshan berdiri dari barisan belakang dan melangkah maju memecah keheningan. Dengan lantang ia berkata,
"Aku, ya Rasulullah. Dahulu, saat perang usai dan kita hendak merapatkan barisan unta, engkau mengangkat cambukmu untuk memukul untamu agar berjalan. Namun, cambuk itu meleset dan mengenai perutku yang tidak sengaja tersingkap. Hari ini, aku menuntut hakku untuk membalasmu, ya Rasulullah."
Situasi seketika berubah menjadi sangat menegangkan, memicu amarah sekaligus kesedihan yang mendalam di hati para sahabat. Abu Bakar As-Siddiq langsung berdiri sambil menangis dan berseru,
"Ukasyah! Cambuklah aku! Akulah orang pertama yang membenarkannya, jangan sakiti Rasulullah!"
Umar bin Khattab pun menyela dengan mata merah berapi-api sambil berkata,
"Ukasyah, langkah dulu mayatku! Cambuk aku sepuasmu, jangan sentuh tubuh suci Nabi!"
Bahkan cucu tercinta Nabi, Hasan dan Husain, ikut memohon agar cambuk itu dialihkan ke punggung kecil mereka. Namun, Rasulullah dengan kelembutan tiada tara menenangkan mereka semua dan bersabda,
"Duduklah kalian semua. Ini urusanku dengan Ukasyah."
Rasulullah kemudian meminta Bilal mengambil cambuk miliknya di rumah Fatimah, yang langsung disambut tangis histeris oleh sang putri karena tidak tega ayahnya yang sedang sakit sakaratul maut harus dicambuk. Ketika cambuk sudah di tangan, Ukasyah kembali berkata,
"Wahai Rasulullah, dulu saat engkau mencambukku, perutku sedang menyingkap dan tidak tertutup baju."
Tanpa ragu, Nabi dengan pasrah membuka jubahnya hingga menyingkap perut dan punggung suci beliau, lalu bersabda lirih,
"Kemarilah Ukasyah, cambuklah aku."
Ukasyah maju mendekat lalu mengangkat cambuk itu tinggi-tinggi di paruh waktu yang membuat seluruh sahabat menutup mata karena tidak sanggup melihatnya.
Namun secara mengejutkan, Ukasyah justru melempar cambuk itu sejauh-jauhnya ke lantai, lalu menjatuhkan dirinya berlutut untuk memeluk erat tubuh Rasulullah SAW.
Sambil menempelkan wajahnya ke perut suci sang Nabi, tangis Ukasyah pecah sejadi-jadinya dan ia berkata dengan suara bergetar,
"Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusannya, ya Rasulullah! Mana mungkin ada manusia yang tega menyakitimu? Aku sengaja melakukan muslihat ini karena aku tahu ajalmu sudah dekat. Aku hanya ingin kulitku yang hina ini bisa menyentuh kulitmu yang suci sebelum engkau pergi. Aku berharap, dengan pelukan ini, Allah mengharamkan tubuhku dari api neraka karena telah menyentuh tubuh kekasih-Nya!"
Mendengar alasan jujur dari lubuk hati sahabatnya, Rasulullah SAW tersenyum dengan sangat indah menatap Ukasyah yang terus menangis. Beliau kemudian memeluk balik Ukasyah dengan penuh kasih sayang dan bersabda kepada seluruh sahabat yang sedang menyeka air mata,
"Barangkali kalian ingin melihat salah seorang penduduk surga, maka lihatlah laki-laki ini."
Seketika suasana berubah menjadi haru biru, dan para sahabat bergantian memeluk Ukasyah dengan rasa cemburu yang indah atas kecerdasan cintanya yang berhasil memeluk tubuh Rasulullah untuk terakhir kalinya.
Allahumma solli ala sayyidinaaa Muhammad!
Komentar
Posting Komentar