PARA WALI MENYANDANG BALA PADA ARBA MUSTAMIR
Menurut Guru Zuhdi dan beberapa Guru lain yang pernah aku dengar, pada rabu terakhir bulan safar itu Allah tumpahkan 360.000 bala (320K dlm kitab Kanzun Najah) untuk stok 1 tahun kedepan. hanya saja, bukan diturunkan kepada masyarakat umum.. itu disaring dulu oleh para Wali Allah sebelum bala itu turun ke muka bumi.
Jadi gini...
Pertama bala itu diturunkan kepada Rasulullah, kemudian diserahkan kepada Nabi Khidir sebagai pembimbing para wali, kemudian Nabi Khidir menyerahkan kepada wali Ghauts untuk disandang seberapa yang kuat, sisanya diserahkan kepada para wali Aqtab, kemudian sisa nya dibagikan lagi kepada para wali Qutub...
info sedikit, wali Qutub itu ada banyak, bukan cuma satu. diatas para Qutub ada Aqtab, pimpinan para Qutub. dan Aqtab ini isinya 3 orang, gelarnya dua Imam + satu Ghauts. dan Ghauts inilah pimpinan seluruh wali yang jumlahnya hanya satu. dan Ghauts ini juga yg biasanya punya gelar lain seperti Qutbul Aqtab, Qutbuz Zaman, Qutbul Akwan, Qutbul Anfas, dll..
Mereka itulah sebenarnya para penyandang bala yang besar besar. kemudian yang kecil kecilnya barulah dibagi bagi kepada para wali yang tersebar dimuka bumi ini...
Dari sekian banyak bala yang sudah dibagi bagi tersebut, ada yang sampai ke suatu kampung. anggaplah Kampung SWA.. di kampung itu misalnya ada 10 wali.. jika kebetulan dapat jatah 5 bala, mereka bagi kepada orang 10. mereka masing masing menyandang ½ nya saja.. lebih ringan.
Tapi, ada kalanya di suatu kampung itu cuma ada 3 wali misalnya, atau bahkan cuma satu. dan dia dapat jatah 5 bala.. ini yang berbahaya, apabila dia cuma sanggup menyandang 3 bala, maka yang 2 nya akan jatuh kepada kampung tersebut.. maka terjadilah di kampung tersebut musibah, misal kebakaran, banjir, gempa bumi, gagal panen, dan lain lain, atau bahkan misal wabah flu dan sejenisnya.
Dan utk diketahui, setiap kampung itu pasti ada wali nya, baik diketahui (masyhur) maupun tidak diketahui (mastur). sebagaimana ketika Guru Kapuh menafsirkan Surah Ar-Ra'd ayat 7 "Li Kulli Qaumin Haad" yang makna nya di setiap wilayah atau kampung itu pasti ada wali nya.
Jadi, sebenarnya kita sebagai manusia biasa ini tidak perlu khawatir berlebihan soal arba mustamir. karena sudah ada para penyandang bala nya. itu sebabnya beberapa ulama mengatakan bahwa tidak ada hari sial, tidak ada hari na'as, tidak ada hari musibah. karena apa ? karena memang sejatinya bala yang turun itu bukan untuk masyarakat umum.
"Tapi kan, meski bukan untuk umum, juga diturunkan untuk para wali.. tetap saja itu musibah, kok bisa disebut bukan musibah ?"
Ya memang, bala itu diterima para wali. tapi bagi para wali, bala itu bukanlah musibah. justru itu nikmat bagi mereka. dengan adanya bala yang disandang itu, Allah makin ridho kepada mereka, Allah menaikkan derajat kewaliyan mereka dan menyiapkan banyak hiasan hiasan disurga untuk mereka. dan itu sebenarnya berlaku juga bagi kita, hanya saja pandangan kita berbeda. kita menganggap musibah itu adalah kerugian karena melihat musibahnya sedangkan mereka memandang itu nikmat karena melihat ganjaran nya.
Disisi lain, ada juga para ulama yang mengatakan bahwa hari itu hari turun bala.. dan itu benar juga, karena nyatanya bala itu memang benar benar turun. dan biasanya disarankan untuk membaca beberapa amalan agar terhindar dari bala itu. karena mereka memandang dari sisi yang sebelumnya aku tulis di atas bahwa ada kalanya bala itu tidak sanggup disandang oleh wali yang ada di daerah kita dan akhirnya turun kepada kita.. dengan adanya amalan amalan itu, insya Allah kita bisa terhindar dari musibah tersebut. dan sekalipun menimpa kita, hati kita bisa ikhlas menerima.
intinya, apabila ada ulama yang bilang na'as, gak salah.. dan apabila ada yang bilang tidak ada hari na'as, tidak salah juga.. semua punya pandangan masing masing.. yang salah itu apabila kita mengomentari mereka dengan pengatahuan kita yang sangat sedikit ini.
misal ada yang bilang tidak ada hari naas, lalu dikomentar "tapi kan kata Guru Sekumpul arba mustamir itu ada, begini dan begini".. gak boleh gitu ya..
atau ada ulama yang bila hari itu turun bala lalu dikomentari "kata Habib Umar gak ada hari musibah, semua hari itu baik"... itu gak boleh juga ya..
jangan kita menyalahkan ulama menggunakan perkataan ulama lain, kata Guru Bakhiet perbuatan seperti itu namanya menyaung ulama.
Dengan sedikit penjelasan di atas, aku rasa kita tidak perlu khawatir berlebihan. apalagi ada yang sampai tidak pergi bekerja, tidak berjualan, tidak membuka toko, dll hanya karena takut dengan hari arba mustamir. padahal jika bala itu turun, baik yang bekerka atau tidak bekerja sama saja, tidak ada beda nya. apakah bala itu tidak bisa masuk jika kita ada dirumah ?
Bahkan, sebenarnya bala terbesar dihari itu (dan hari hari lain) adalah apabila kita bangun dipagi hari tanpa mengerjakan shalat subuh. itu bala yang sangat besar dan sebuah kepastian. karena 2 rakaat subuh lebih baik dari dunia dan seisinya, maka apabila ditinggalkan, artinya lebih buruk dari dunia dan seisinya.
Namun nyatanya, kebanyakan kita lebih takut dengan musibah arba mustamir yang tidak pasti mengenai kita tapi tidak takut dengan musibah akibat meninggalkan shalat..
Komentar
Posting Komentar