SAAT SEORANG AYAH DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN ATAS KELUARGA NYA

Seorang ayah bukan hanya pencari nafkah bagi keluarganya. Dalam Islam, ia juga memikul amanah kepemimpinan, perlindungan, pendidikan, dan pembinaan keluarganya.

Suatu hari nanti, amanah itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
 “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka...”
HR. Bukhari dan Muslim

Ayah Bukan Hanya Ditanya tentang Harta
Seorang ayah mungkin berpikir:
“Aku sudah bekerja keras.”
“Aku sudah memberikan rumah.”
“Aku sudah memenuhi kebutuhan mereka.”
Semua itu adalah tanggung jawab yang penting.

Namun kepemimpinan keluarga tidak berhenti pada kebutuhan materi.
Apakah keluarganya diarahkan kepada ketaatan?

Apakah anak-anaknya diajarkan shalat?
Apakah ia menjadi teladan dalam kejujuran?
Apakah ia menjaga keluarganya dari lingkungan dan kebiasaan yang buruk?
Apakah ia mengajarkan halal dan haram?
Apakah ia memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik?
Semua itu termasuk amanah yang harus diperhatikan.

Rumah Adalah Amanah Allah ﷻ berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka...” QS. At-Tahrim: 6

Ayat ini merupakan peringatan agar seseorang tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Ia juga harus berusaha menjaga keluarganya.
Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan kesombongan.
Bukan dengan memaksakan kehendak secara zalim.

Tetapi dengan nasihat, pendidikan, keteladanan, kasih sayang, dan usaha yang benar.

Ketika Anak Bertanya tentang Masa Kecilnya

Bayangkan seorang ayah yang dahulu memiliki kesempatan mendidik anaknya.
Anaknya masih kecil.
Masih mudah diarahkan.
Masih mencari teladan.

Namun sang ayah terlalu sibuk.
Setiap kali anak ingin berbicara:
“Ayah sibuk.”
Ketika anak ingin belajar agama:
“Nanti saja.”
Ketika anak membutuhkan perhatian:
“Ayah capek.”
Hari demi hari berlalu.
Anak tumbuh dewasa.

Dan tiba-tiba sang ayah menyadari bahwa waktu yang dahulu ia miliki tidak pernah kembali.
Karena anak tidak selamanya kecil.
Jangan Hanya Memberikan Harta, Berikan Juga Teladan

Seorang anak bisa mewarisi rumah.
Bisa mewarisi kendaraan.
Bisa mendapatkan pendidikan tinggi.
Tetapi anak juga membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli:
teladan dari ayahnya.
Anak belajar kejujuran dari ayah yang jujur.
Belajar tanggung jawab dari ayah yang bertanggung jawab.
Belajar shalat dari ayah yang menjaga shalat.
Belajar memaafkan dari ayah yang tidak mudah menyimpan dendam.
Belajar menghormati perempuan dari cara ayah memperlakukan ibunya.

Karena terkadang perbuatan seorang ayah berbicara lebih keras daripada nasihatnya.
Ayah Juga Manusia yang Bisa Salah
Pertanggungjawaban bukan berarti setiap kesalahan ayah otomatis menjadikannya orang yang buruk.
Seorang ayah juga bisa lelah.
Bisa salah.
Bisa kurang ilmu.
Bisa menyesal.
Dan selama masih hidup, ia masih memiliki kesempatan memperbaiki semuanya.

Jika dahulu jarang mengajak keluarga kepada kebaikan, mulailah sekarang.
Jika dahulu terlalu keras, belajarlah menjadi lebih lembut.
Jika dahulu kurang hadir untuk anak, hadirlah selagi masih ada waktu.
Jika pernah menyakiti keluarga, beranilah meminta maaf.

Tidak ada kehormatan dalam mempertahankan kesalahan hanya karena merasa dirinya seorang ayah.
Karena Anak Akan Tumbuh

Ada masa ketika anak kecil berlari memanggil:
“Ayah...”
Ada masa ketika mereka meminta digendong.
Ada masa ketika mereka ingin ditemani.

Tetapi masa itu tidak berlangsung selamanya.
Suatu hari anak menjadi dewasa.
Memiliki kehidupannya sendiri.
Dan seorang ayah mungkin hanya bisa mengenang:
“Mengapa dahulu aku tidak lebih banyak hadir?”
Maka jangan tunggu kehilangan untuk menyadari nilai sebuah keluarga.
Kepemimpinan Adalah Amanah, Bukan 
Kekuasaan

Menjadi kepala keluarga bukan berarti memiliki hak untuk melakukan apa pun kepada keluarga.
Kepemimpinan berarti memikul tanggung jawab.
Ketika keluarga lapar, ayah berusaha.
Ketika keluarga kesulitan, ayah melindungi.
Ketika anak tersesat, ayah membimbing.
Ketika istri sedang lemah, ayah menguatkan.
Ketika keluarga jauh dari Allah ﷻ, ayah berusaha mengingatkan.
Dan ketika dirinya sendiri salah, ayah tidak malu untuk memperbaiki diri.
Itulah beratnya amanah.

Sebelum Hari Pertanggungjawaban
Selagi masih ada waktu, seorang ayah hendaknya bertanya kepada dirinya:
Apakah keluargaku mengenal Allah ﷻ melalui diriku?
Apakah anak-anakku melihat teladan yang baik dariku?
Apakah aku sudah menjaga nafkah mereka dari yang haram?
Apakah aku sudah mengajarkan mereka shalat dan akhlak?
Apakah aku lebih sering hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara hati?
Apakah keluargaku merasa aman ketika bersamaku?
Jika Allah ﷻ bertanya tentang amanah keluargaku, apa yang akan kujawab?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan untuk membuat seorang ayah berputus asa.

Justru untuk membuatnya segera memperbaiki amanah yang masih berada di tangannya.
Suatu hari nanti, seorang ayah akan berdiri sendiri di hadapan Allah ﷻ.
Harta tidak dapat menggantikan tanggung jawab.
Jabatan tidak dapat menggantikan tanggung jawab.

Popularitas tidak dapat menggantikan tanggung jawab.
Yang akan dilihat adalah bagaimana amanah itu dijalankan.
Maka jangan hanya berusaha menjadi ayah yang mampu memberikan kehidupan yang nyaman.

Berusahalah menjadi ayah yang membantu keluarganya menemukan jalan menuju Allah ﷻ.
Karena rumah yang paling sukses bukanlah rumah yang paling mewah.
Tetapi rumah yang penghuninya saling menolong untuk mendapatkan keselamatan di akhirat.

Semoga Allah ﷻ memberikan para ayah kekuatan untuk menjalankan amanahnya, memberikan kelembutan dalam mendidik keluarga, mengampuni kekurangan mereka, dan menjadikan anak-anak mereka sebagai amal jariyah yang terus mengalir setelah mereka tiada.
Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benarkah Arwah Orang-orang Mukmin Pulang Ke Rumahnya Setiap Malam ..?

CARA KIRIM PAHALA BACAAN AL-QURAN UNTUK SI MAYIT

INI PATUT DIKETAHUI UNTUK PARA PETUGAS QURBAN AGAR TIDAK TERJADI KEHARAMAN.